waspada godaan nafsu
Khutbah Jumat
M
Muhammad Al Basith Rasya
29 April 2026
4 menit baca
1 views
--- Khutbah Jumat: Wasapada Godaan Nafsu, Meraih Cinta Ilahi Gaya: Sedih Menyayat Hati Bahasa: Indonesia --- اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،...
---
Khutbah Jumat: Wasapada Godaan Nafsu, Meraih Cinta Ilahi
Gaya: Sedih Menyayat Hati
Bahasa: Indonesia
---
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di hadapan keagungan-Mu, ya Allah, hati ini bergetar. Di saat keheningan Jumat membentang, nurani ini merintih, merenungi diri yang hina dan penuh noda. Kita berkumpul di sini, di rumah-Mu yang suci, bukan karena kesempurnaan kita, tapi karena belas kasih dan rahmat-Mu yang tak terhingga. Terkadang, saudara sekalian, kita merasa gagah berani melawan dunia luar, melawan kesulitan hidup, melawan kezaliman. Namun, alangkah seringnya, kita terjerembab lemah tak berdaya di hadapan musuh yang paling dekat, paling licik, dan paling membahayakan: nafsu kita sendiri.
Bagai musuh dalam selimut, nafsu ini berbisik di telinga, menggoda hati, memainkan pikiran, menyeret langkah kita ke jurang kehancuran. Ia adalah akar segala dosa, sumber segala kesesatan. Dari celah-celah halus, ia menyusup, mengaburkan pandangan kita dari kebenaran, meredupkan cahaya iman, membisikkan janji-janji semu kebahagiaan dunia yang sejatinya adalah fatamorgana. Ingatlah firman Allah Ta'ala:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
"Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 208)
Lihatlah ke sekeliling kita, perhatikan diri kita masing-masing. Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena dorongan nafsu untuk bersenang-senang sesaat? Berapa banyak mata yang terpaku pada hal-hal yang melalaikan, yang menjauhkan kita dari Sang Pencipta? Berapa banyak lisan yang terucap kata-kata keji, menggiba, atau dusta, sekadar memuaskan keinginan hati yang sempit? Dosa-dosa kecil yang dianggap remeh itulah, wahai hadirin, yang akan menumpuk menjadi gunung dosa yang menggunung, menenggelamkan kita dalam lautan penyesalan kelak di hari perhitungan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, dalam sebuah hadits yang begitu menyayat hati, menggambarkan betapa hebatnya perjuangan melawan nafsu ini:
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: "إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِكَلِمَاتٍ: اكْتُبْ رِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَعَمَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ. فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا". (متفق عليه)
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menulis empat kalimat: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia. Maka, demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, hingga jarak antara dia dan surga tinggal sehasta, lalu ia didahului oleh ketentuan (takdir) sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, lalu ia memasukinya neraka. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dia dan neraka tinggal sehasta, lalu ia didahului oleh ketentuan (takdir) sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga, lalu ia memasukinya surga." (Muttafaq 'alaih)
Sungguh, hati yang mendengar hadits ini akan tertunduk pilu. Betapa rapuhnya iman kita, betapa mudahnya kita tergelincir. Satu kedipan mata saja, satu langkah yang salah di akhir hayat, bisa merenggut semua amal kebaikan kita. Alangkah mengerikannya jika kita tergolong orang yang beramal baik di awal hidup, namun di akhir hayat terjerumus dalam jurang kenistaan, hanya karena gagal mengendalikan bisikan nafsu yang terus menggoda.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita adalah hamba Allah, yang lemah dan tak berdaya tanpa pertolongan-Nya. Kita bukanlah penguasa takdir, namun kita diperintahkan untuk berjuang. Perjuangan melawan hawa nafsu adalah jihad terbesar, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ." (رواه الترمذي)
"Seorang pejuang (mujahid) adalah orang yang berjihad melawan (hawa) nafsunya dalam ketaatan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi)
Ya, jihad terbesar itu kini saatnya kita mulai. Bukan dengan pedang atau tombak, melainkan dengan mengasah kepekaan hati, menguatkan tekad, dan senantiasa memohon pertolongan Sang Maha Kuasa. Tatkala nafsu mengajak pada maksiat, bersegeralah berkata dalam hati: "Tuhanku Maha Melihat. Tuhanku Maha Mendengar. Tuhanku Maha Mengetahui." Ingatlah bagaimana Yusuf 'alaihissalam menolak rayuan wanita bangsawan Mesir, meskipun dalam posisi yang sangat terdesak. Ia berkata:
قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ رَبِّىٓ أَحْسَنَ مَقَامِىٓ ۖ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
"Yusuf berkata, 'Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya dia (suamiku) adalah tuanku, telah memperlakukan aku dengan baik.' Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung." (QS. Yusuf: 23)
Lihatlah betapa kokohnya pertahanan iman Yusuf, yang lebih memilih penjara daripada kehilangan kehormatan dan keridhaan Tuhannya. Ia tahu, bahwa kenikmatan sesaat dari hawa nafsu tidak sebanding dengan murka Allah dan siksa-Nya yang pedih.
Mari kita tarik diri dari segala bentuk kemaksiatan walau sekecil apa pun. Mari kita hidupkan kembali hati kita dengan zikir, tadabbur Al-Qur'an, dan doa kepada Allah. Mari kita perbaiki shalat kita, karena shalat adalah tiang agama dan pencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dzikrullah) adalah lebih besar (keutamaan-nya daripada yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 45)
Wahai diri yang diciptakan dari tanah ini, ingatlah bahwa kita hanyalah debu di hadapan-Nya. Betapa seringnya kita mengkhianati janji-janji kita sendiri, melupakan tujuan penciptaan kita, dan memilih jalan yang menjauhkan kita dari rahmat-Nya. Tangisan ini bukanlah tangisan lemah, melainkan tangisan penyesalan, tangisan kepedihan hati yang rindu akan ampunan-Nya, tangisan kerinduan untuk kembali ke jalan-Nya dengan membawa diri yang bersih.
bَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.